Ass. Wr. Wb dan Salam Sejahtera
Alhamdulillah Udin Hamd bisa kembali publish artikel lagi dan semoga anda juga tetep konsisten juga.
Kawan-kawan blogger, pada awal UdinHamd.com terbit tepatnya tanggal 30 Desember 2009 sudah banyak teman-teman yang mengunjungi blog sederhana ini dan anda yang sudah dari awal aktif berkunjung serta memberikan komentar dan klick submit pasti komentar anda tidak langsung tampil di laman komentar dikarenakan Blog UdinHamd ini menerapkan moderasi komentar untuk para komentar baru. Atau dengan kata lain, apabila anda baru pertama kali berkunjung dan memberikan komentar maka komentar anda tertahan oleh moderasi dan bila sudah saya setujui maka komentar anda langsung akan tampil di kolom komentar dan untuk seterusnya apabila anda memberikan komentar maka akan langsung tayang tanpa mampir dulu ke moderasi.
Bagi anda yang blognya ramai pengunjung pasti akan ribet juga ya. . .? Apalagi kalau menerapkan full moderasi. . .he. .3x bisa habis waktu untuk menyetujuinya . .biaya juga nambah tentunya.
Menurut anda kawan, apa yang Udin Hamd terapkan ini {Moderasi pertama kunjung} sah-sah saja? Atau anda punya pandangan lain tentang hal ini atau punya pengalaman menarik lainnya tentang moderasi komentar. .Monggo sharing.
Terimakasih
" Bila enggan melakukan hal yang kecil, maka sulit untuk menyelesaikan masalah yang besar "
Senin, 16 Agustus 2010
Sabtu, 07 Agustus 2010
CoPeTe CeLaAn HuHa {2}
Ass. Wr. Wb dan Salam Sejahtera
Apakabar kawan? Tentu sehat, bukan? Sehingga bisa kunjung ke blog ini.
Bagi anda yang belum membaca CoPeTe CeLaAn HuHa {1}, saya sarankan baca terlebih dahulu sehingga pada artikel kali ini anda bisa lebih faham keseluruhannya dengan yang dimaksud sesuai judul di atas.
5. La {Larangan}
Bila empat jurus sebelumnya juga belum mampu mengubah situasi yang kita harapkan maka jurus kelimanya adalah larangan. Kita boleh melarang anak untuk tidak melakukan hal yang tidak baik tentu alasan melarang yang kita lakukan dapat dipahami bersama. Dilarang menonton TV di saat waktu-waktu orang melakukan shalat atau belajar. Dilarang tidur terlalu malam yang dapat menyulitkan bangun tidur keesokan harinya, atau
larangan yang lain. Pemahaman terhadap apa dan mengapa sesuatu dilarang sebaiknya dilakukan atas kesepakatan bersama antara orangtua dan anak.
6. An {Ancaman}
Bila sampai tahap larangan pun anak kita masih melanggarnya, maka jurus ancaman sudah saatnya dilakukan. Yang perlu diingat jangan sampai ada niat jahat yang muncul saat memberi ancaman. Yang ada adalah upaya lebih kuat untuk memperbaiki perilaku anak, pelanggaran atas larangan pasti ada konsekuensinya. Contoh bentuk ancaman yang bisa kita lakukan misalnya Ingat, bila bangun kesiangan akan ditinggal, kalau tidak shalat, nggak ada uang saku, dsb.
7. Hu {Hukuman}
Makna hukuman bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menyeramkan. Hukuman yang baik adalah agar anak paham sesuatu harus terjadi atau konsekuensi dari sebuah pelanggaran yang terjadi. Dan itu semua adalah sesuatu yang telah disepakati. Misal ketika si anak saat shalat jamaah berbuat gaduh mungkin hukumannya mengulang shalatnya, tidak shalat subuh tidak ada uang saku, memetik bunga kesayangan, hukumannya menyiram dan merawat tanaman tersebut.
Jangan pernah berpikir memberi hukuman dengan hukuman fisik yang berat atau hukuman yang melukai hati dan perasaan anak yang mendalam. Ingatlah Rasulullah saw. Pernah menegur seorang ibu yang telah merenggut anaknya dari tangan Rasulullah dengan kasar hanya karena si anak kencing di jubah beliau. “Wahai Ibu, jubah kotor karena noda kencing anak ini bisa hilang bila dicuci, tapi bisakah kita menghilangkan luka hati anak yang telah diperlakukan dengan kasar?”
8. Ha {Hati}
Jurus pamungkas dari semua tips mendidik anak adalah hati. Bila semua jurus diatas {1 – 7} sudah mentok, maka gunakan hati. Jenguklah anak ketika dia sudah tidur. Betulkan selimutnya, usaplah tangan, kaki atau punggungnya. Kecuplah keningnya sambil bergumam lirih, “Ayah/Ibu sangat menyayangimu, jadilah anak yang baik.” Atau di saat selesai shalat, bayangkan wajahnya satu per satu doakan, “Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang shalih. Ya Allah, jadikanlah pasangan hidup dan anak-anak keturunan kami sebagai penyejuk mata dan hati kami kelak. Jadikanlah mereka sebagai pemimpin bagi orang yang bertaqwa. Wahai yang membolak-balikkan hati manusia, bukalah pikiran, bukalah mata hatinya, satukan hati kami, ya Allah.”
{Sumber: majalah donatur YDSF edisi 258/sept 2009/hal 26}
Semoga apa yang tertera pada artikel di atas bisa bermanfaat untuk menjadi pedoman bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya dengan lebih baik. Dan bagi kalangan remaja yang masih betah sendirian semoga bisa jadi bekal agar apabila sudah tidak pingin sendiri dan menikah terus mempunyai momongan bisa diterapkan.
Terimakasih
Apakabar kawan? Tentu sehat, bukan? Sehingga bisa kunjung ke blog ini.
Bagi anda yang belum membaca CoPeTe CeLaAn HuHa {1}, saya sarankan baca terlebih dahulu sehingga pada artikel kali ini anda bisa lebih faham keseluruhannya dengan yang dimaksud sesuai judul di atas.
5. La {Larangan}
Bila empat jurus sebelumnya juga belum mampu mengubah situasi yang kita harapkan maka jurus kelimanya adalah larangan. Kita boleh melarang anak untuk tidak melakukan hal yang tidak baik tentu alasan melarang yang kita lakukan dapat dipahami bersama. Dilarang menonton TV di saat waktu-waktu orang melakukan shalat atau belajar. Dilarang tidur terlalu malam yang dapat menyulitkan bangun tidur keesokan harinya, atau
larangan yang lain. Pemahaman terhadap apa dan mengapa sesuatu dilarang sebaiknya dilakukan atas kesepakatan bersama antara orangtua dan anak.
6. An {Ancaman}
Bila sampai tahap larangan pun anak kita masih melanggarnya, maka jurus ancaman sudah saatnya dilakukan. Yang perlu diingat jangan sampai ada niat jahat yang muncul saat memberi ancaman. Yang ada adalah upaya lebih kuat untuk memperbaiki perilaku anak, pelanggaran atas larangan pasti ada konsekuensinya. Contoh bentuk ancaman yang bisa kita lakukan misalnya Ingat, bila bangun kesiangan akan ditinggal, kalau tidak shalat, nggak ada uang saku, dsb.
7. Hu {Hukuman}
Makna hukuman bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menyeramkan. Hukuman yang baik adalah agar anak paham sesuatu harus terjadi atau konsekuensi dari sebuah pelanggaran yang terjadi. Dan itu semua adalah sesuatu yang telah disepakati. Misal ketika si anak saat shalat jamaah berbuat gaduh mungkin hukumannya mengulang shalatnya, tidak shalat subuh tidak ada uang saku, memetik bunga kesayangan, hukumannya menyiram dan merawat tanaman tersebut.
Jangan pernah berpikir memberi hukuman dengan hukuman fisik yang berat atau hukuman yang melukai hati dan perasaan anak yang mendalam. Ingatlah Rasulullah saw. Pernah menegur seorang ibu yang telah merenggut anaknya dari tangan Rasulullah dengan kasar hanya karena si anak kencing di jubah beliau. “Wahai Ibu, jubah kotor karena noda kencing anak ini bisa hilang bila dicuci, tapi bisakah kita menghilangkan luka hati anak yang telah diperlakukan dengan kasar?”
8. Ha {Hati}
Jurus pamungkas dari semua tips mendidik anak adalah hati. Bila semua jurus diatas {1 – 7} sudah mentok, maka gunakan hati. Jenguklah anak ketika dia sudah tidur. Betulkan selimutnya, usaplah tangan, kaki atau punggungnya. Kecuplah keningnya sambil bergumam lirih, “Ayah/Ibu sangat menyayangimu, jadilah anak yang baik.” Atau di saat selesai shalat, bayangkan wajahnya satu per satu doakan, “Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang shalih. Ya Allah, jadikanlah pasangan hidup dan anak-anak keturunan kami sebagai penyejuk mata dan hati kami kelak. Jadikanlah mereka sebagai pemimpin bagi orang yang bertaqwa. Wahai yang membolak-balikkan hati manusia, bukalah pikiran, bukalah mata hatinya, satukan hati kami, ya Allah.”
{Sumber: majalah donatur YDSF edisi 258/sept 2009/hal 26}
Semoga apa yang tertera pada artikel di atas bisa bermanfaat untuk menjadi pedoman bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya dengan lebih baik. Dan bagi kalangan remaja yang masih betah sendirian semoga bisa jadi bekal agar apabila sudah tidak pingin sendiri dan menikah terus mempunyai momongan bisa diterapkan.
Terimakasih
CoPeTe CeLaAn HuHa (1)
Ass. Wr. Wb dan Salam sejahtera
Judul di atas bukanlah potongan sebuah mantra agar kita terhindar dari kecopetan atau mantra seseorang yang akan mencopet benda milik orang lain tanpa disadari oleh pemiliknya. Judul diatas adalah singkatan dari beberapa kata yang agak susah kita mengingatnya bila harus disebutkan satu persatu.
Singkatan diatas terkesan unik dan mudah diingat untuk kita panggil kembali bila menginginkannya.
Singkatan itu merupakan tips bagaimana caranya para orangtua dalam mendidik anak mereka dengan lebih baik dan bagi si anak agar mengerti dan faham maksud dan tujuan orangtua mereka melakukan hal tersebut pada diri si anak.
1. Co (Contoh)
Seorang anak tumbuh dan berkembang dari keluarga, sekolah, dan lingkungannya. Bila contoh dari keluarga, sekolah, dan lingkungannya baik kemungkinan besar si anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya bila contoh kehidupan di keluarga, sekolah, dan lingkungannya kurang baik maka kemungkinan besar pola pikir sikap dan tindakan si anak pun kurang baik pula. Coba orangtua ingat-ingat dalam kehidupan sehari-hari, orangtua sulit menyuruh anak untuk mandi bila si anak masìh melìhat orangtua sendiri kelihatan belum mandi. Juga sulit menyuruh anak untuk shalat bila sebagai orangtua kelihatan belum shalat. Demikian pula anak susah disuruh belajar bila orangtua sendiri tidak kelihatan belajar.
Apakah kita sebagai orangtua sudah bisa menjadi contoh yang baik bagi anak?
2. Pe (Perintah)
Perintahkan anak kita shalat sebagaimana Allah memerintahkan segenap manusia untuk menegakkan shalat, berbuat baik pada sesama, belajar Al Quran dan ilmu pengetahuan. Karena kalau orangtua tidak memerintahkan hal itu pada anak mereka dan membiarkan saja, terkadang anak lalai melakukan kewajiban-kewajiban yang mestinya harus dilakukan sebagai hamba maupun khalifah di muka bumi ini.
3. Te (Teguran)
Bila orangtua telah memberi contoh dan memerintahkan hal-hal baik yang mestinya harus dilakukan oleh anak, namun si anak tidak melakukannya maka sebagai orangtua berkewajiban menegurnya. “Kenapa kok nggak shalat? Ayo segera shalat ” . Lakukan teguran tersebut pada situasi yang semestinya harus dilakukan oleh anak misal pada saat harus belajar, saat harus bangun tidur, dsb. Teguran yang baik tentunya harus disampaikan dalam tutur kata yang baik dan santun disertai dengan kalimat ajakan menuju kebaikan.
4. Ce (Cela)
Bila contoh, perintah, dan bahkan teguran sudah orangtua lakukan tetapi si anak tidak melakukannya juga maka berikutnya adalah celaan. Orangtua boleh mencela perbuatan anak yang kurang baik dengan ucapan yang bernada miring.
Lho, katanya anak shaleh, kok nggak shalat ya?
Atau
Lho, katanya ingin dapat nilai baik kok nggak mau belajar ya?
Celaan yang orangtua lakukan hendaknya diniatkan untuk menyentuh jiwa anak dengan harapan jiwanya yang lupa bisa diingatkan lagi dan berdampak pada perilaku baik yang para orangtua harapkan.
Bersambung. . .
Judul di atas bukanlah potongan sebuah mantra agar kita terhindar dari kecopetan atau mantra seseorang yang akan mencopet benda milik orang lain tanpa disadari oleh pemiliknya. Judul diatas adalah singkatan dari beberapa kata yang agak susah kita mengingatnya bila harus disebutkan satu persatu.
Singkatan diatas terkesan unik dan mudah diingat untuk kita panggil kembali bila menginginkannya.
Singkatan itu merupakan tips bagaimana caranya para orangtua dalam mendidik anak mereka dengan lebih baik dan bagi si anak agar mengerti dan faham maksud dan tujuan orangtua mereka melakukan hal tersebut pada diri si anak.
1. Co (Contoh)
Seorang anak tumbuh dan berkembang dari keluarga, sekolah, dan lingkungannya. Bila contoh dari keluarga, sekolah, dan lingkungannya baik kemungkinan besar si anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya bila contoh kehidupan di keluarga, sekolah, dan lingkungannya kurang baik maka kemungkinan besar pola pikir sikap dan tindakan si anak pun kurang baik pula. Coba orangtua ingat-ingat dalam kehidupan sehari-hari, orangtua sulit menyuruh anak untuk mandi bila si anak masìh melìhat orangtua sendiri kelihatan belum mandi. Juga sulit menyuruh anak untuk shalat bila sebagai orangtua kelihatan belum shalat. Demikian pula anak susah disuruh belajar bila orangtua sendiri tidak kelihatan belajar.
Apakah kita sebagai orangtua sudah bisa menjadi contoh yang baik bagi anak?
2. Pe (Perintah)
Perintahkan anak kita shalat sebagaimana Allah memerintahkan segenap manusia untuk menegakkan shalat, berbuat baik pada sesama, belajar Al Quran dan ilmu pengetahuan. Karena kalau orangtua tidak memerintahkan hal itu pada anak mereka dan membiarkan saja, terkadang anak lalai melakukan kewajiban-kewajiban yang mestinya harus dilakukan sebagai hamba maupun khalifah di muka bumi ini.
3. Te (Teguran)
Bila orangtua telah memberi contoh dan memerintahkan hal-hal baik yang mestinya harus dilakukan oleh anak, namun si anak tidak melakukannya maka sebagai orangtua berkewajiban menegurnya. “Kenapa kok nggak shalat? Ayo segera shalat ” . Lakukan teguran tersebut pada situasi yang semestinya harus dilakukan oleh anak misal pada saat harus belajar, saat harus bangun tidur, dsb. Teguran yang baik tentunya harus disampaikan dalam tutur kata yang baik dan santun disertai dengan kalimat ajakan menuju kebaikan.
4. Ce (Cela)
Bila contoh, perintah, dan bahkan teguran sudah orangtua lakukan tetapi si anak tidak melakukannya juga maka berikutnya adalah celaan. Orangtua boleh mencela perbuatan anak yang kurang baik dengan ucapan yang bernada miring.
Lho, katanya anak shaleh, kok nggak shalat ya?
Atau
Lho, katanya ingin dapat nilai baik kok nggak mau belajar ya?
Celaan yang orangtua lakukan hendaknya diniatkan untuk menyentuh jiwa anak dengan harapan jiwanya yang lupa bisa diingatkan lagi dan berdampak pada perilaku baik yang para orangtua harapkan.
Bersambung. . .
Waktu Dan Tempat Menghafal Ilmu
Ass. Wr. Wb dan Salam Sejahtera
Alhamdulillah saat ini Udin Hamd dalam kondisi baik-baik saja dan anda tentunya juga demikian.
Beberapa waktu lalu saya membaca majalah yang isinya sangat penting untuk kita ketahui bersama.
Kita sebagai seorang penulis maupun anda yang sedang menyelesaikan study di bangku sekolah maupun kuliah.
Dalam menulis maupun belajar ada waktu dan tempat tertentu yang lebih utama dari waktu maupun tempat yang sudah ada.
Mari kita simak dan semoga bisa menginspirasikan kepada kita sebagai blogger.
Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
¤ Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
¤ Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.
¤ Waktu terbaik untuk menulis adalah ditengah siang.
¤ Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khatib berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”
Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”
Alhamdulillah saat ini Udin Hamd dalam kondisi baik-baik saja dan anda tentunya juga demikian.
Beberapa waktu lalu saya membaca majalah yang isinya sangat penting untuk kita ketahui bersama.
Kita sebagai seorang penulis maupun anda yang sedang menyelesaikan study di bangku sekolah maupun kuliah.
Dalam menulis maupun belajar ada waktu dan tempat tertentu yang lebih utama dari waktu maupun tempat yang sudah ada.
Mari kita simak dan semoga bisa menginspirasikan kepada kita sebagai blogger.
Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya. Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya, karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
¤ Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
¤ Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.
¤ Waktu terbaik untuk menulis adalah ditengah siang.
¤ Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khatib berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.”
Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.”
Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”
Langganan:
Entri (Atom)